1.
Stunting merupakan masalah gizi
kronis yang muncul sebagai akibat dari keadaan kurang gizi yang terakumulasi
dalam waktu yang cukup lama,sehingga mengakibatkan gangguan perumbuhan pada
anak yakni tingg badan anak lebih rendah atau pendek (kerdil) dari standar.
Penanganan stunting tidak terlepas dari peran ibu dan keluarga di setiap fase
tumbuh kembang anak dari janin hingga balita (ASI dan MPASI),terutama masa 1000 hari pertama kehidupan (HPK) yaitu
periode tumbuh kembang yang dimulai sejak terbentuknya janin
dalam kandungan hingga anak berusia 2 tahun. Di periode ini, otak dan tubuh bayi sedang berkembang
pesat, sehingga jika terjadi masalah gizi akan berpengaruh juga pada
perkembangan otak dan tubuh bayi. jadi pemenuhan gizi di 1000 HPK
sangat penting, sebab jika tidak dipenuhi asupan nutrisinya, maka dampaknya
pada perkembangan anak akan bersifat permanen serta pola asuh dalam
lingkungan keluarga tersebut, dibawah ini kita akan menguraikan satupersatu
peanganan stunting khususnya pada peran
ibu dan keluarga dilakukan pada tahapan fakto ibu hamil, intake zat gizi ( ibu
dan anak) serta pola asuh:
a) Ibu
hamil yang kekurangan nutrisi maka janin
bisa mengalami IUGR (intauterine groeth restriction) yaitu kondisi janin
pertumbuhannya terhenti di dalam kandungan sehingga memili berat janin yang
tidak normal karena janin memiliki sifat plastisitas (fleksibilitas) pada
periode perkembangan, sehingga janin dalam kandungan akan menyesuaikan diri
dengan apa yang terjadi pada ibunya, termasuk apa yang dimakan oleh ibunya
selama mengandung. Jika nutrisi yang masuk pada tubuh ibunya nya kurang, maka
janin akan mengurangi sel-sel perkembangan tubuhnya. Tentunya hal ini bisa
mengakibatkan BBLR(berat badan lahir rendah).
.jadi nutrisi ibu hamil memang sangat harus di perhatikan , ketika ibu hamil
tidak bisa mengkonsumsi makanan yang sehat dan penuh nutrisi maka janin akan
menerima dampak yang sama , Janin tidak menerima nutrisi yang dibutuhkan untuk
perkembangan Jaringan, otot, tulang dan sistem syaraf dampaknya bayi tidak akan
tumbuh dengan baik dan sering gagal tumbuh dalam kandungan. Kesimpulannya penanganan
stunting pada masa kehamilan yaitu:
Ø Memperbaiki
gizi dan kesehatan ibu hamil merupakan cara terbaik dalam mengatasi stunting.
Ibu hamil perlu mendapatkan makanan bergizi dalam jumlah yang cukup. Apabila
ibu mendapati berat badan yang berada dibawah normal atau kondisi kurang energi
kronis (KEK) , maka ibu perlu diberikan asupan makana tambahan
Ø Setiap
ibu hamil perlu mendapat tablet tambah darah, minimal 90 tablet selam masa
kehamilan
Ø Kesehatan
ibu harus tetap dijaga agar ibu hamil tidak mengalami sakit
b) Setelah
janin lahir yang perlu di perhatikan adalah pemberian ASI ekslusif dan MPASI
setela bayi berusia 6 bulan ke atas.
Hal yang harus
diperhatikan pada fase kelahiran hingga 6 bulan:
Ø Persalinan
ditolong oleh bidan atau dokter terlatih dan begitu lahir bayi dilakukan
inisiasi menyusui dini (IMD)
Ø Bayi
sampai dengan usia 6 bulan ekslusif diberi air susu ibu(ASI) saja
Hal
–hal yang harus diperhatikan pada fase bayi berusia 6 bulan hingga 2 tahun:
Ø Mulai
usia 6 bulan , selain ASI , bayi diberikan makanan pendamping
ASI(MP_ASI).pemberian ASI terus dilakukan hingga bayi berusia 2 tahun atau
lebih
Ø Bayi
dan anak memperoleh kapsul vitamin A dan imunisasi dasar yang lengkap
c) Pola
asuh sangat mencakup kebiasaan yang dilakukan lingkungan terutama keluarga
dalam membentuk pertumbuhan anak baik pertumbuhan psikis (kepribadian )maupun
pertumbuhan fisik. yang perlu diperhatikan dalam Pola asuh yaitu kebiasaan
Pemberian makanan yang baik oleh ibu,rangsangan psikologisosisal , kebiasaan
praktek hynine yang baik. contoh seorang anak yang tidak dibiasakan jajan oleh
ibunya dan terbiasa makan makanan yang sehat dirumah berpeluang rendah untuk
terkena stunting. Selain itu pola asuh orang tua dalam melakukan kebiasaan
hygine yang baik seperti cuci tangan sebelum makan sangat berperan dalam
mencegah stunting.
2.
Menurut menteri kesehatan RI Nila
farid moelok tiga hal yang harus di perhatikan dalm pencegahan stunting yaitu
perbaikan pola makan, pola asuh serta perbaikan sanitasi dan akses air bersih. bagaimana sanitasi dapat memperngaruhi
stunting ?
di
Indonesia berdasarkan data Riskesdas 2013 prevalensi stunting di Indonesia
mencapai 37,2 persen. Ternyata tidak hanya akibat gizi buruk,stunting diketahui
sebagai dampak dari sanitasi buruk. Sebelumnya (stunting) disangka karena
kurang gizi, tapi hasil survei akibat dari sanitasi yang jelek. sanitasi yang
buruk dapat menyebabkan anak mudah terkan infeksi yang bukan sekadar diare dan
diobati sembuh, anak yang sering mengalami diare berulang akan mempengaruhi sistem
pencernaanya menjadi tidak baik atau rusak. Akibatnya proses penyerapan zat-zat
gizi makanan ketubuh anak menjadi terganggu. Padahal gizi tersebut dibutuhkan
untuk tumbuh kembang otak dan fisik anak , ketika anak tergangu proses
penyerapan gizi ke tubuhnya maka tumbuh kembang anak menjadi terhambat dan
beresiko stunting. Maka itu, dalam penanganan stunting tak hanya dilakukan
dengan pendekatan gizi saja melainkan juga menyangkut perbaikan sanitasi. Jadi,
perbaikan sanitasi salah satu pilar dalam pencegahan stunting. Sanitasi yang
baik akan membuat anak terhindar dari gangguan kesehatan. Masalah penyakit
infeksi seperti diare dapat dicegah dan diatasi, tanpa perbaikan sanitasi maka
asupan gizi menjadi hal yang sia-sia.
3.
Stunting tidak hanya terjadi pada masyarakat kelas ekonomi
bawah, namun saat ini sudah menyasar ke masyarakat kelas ekonomi menengah.Artinya
Penyebab utamanya bukan hanya karena semata kondisi ekonomi serta merta bisa
dijadikan alasan penyebab anak stunting ? Atau jangan-jangan
faktor kesibukan orangtua yang membuat asupan gizi anak kurang terperhatikan ?.
Kesalahan pemberian asupan gizi kepada anak atau kurangnya pengetahuan seorang
ibu tentang stunting dan pemenuhan asupan gizi anak karena seorang ibu adalah komandan gizi bagi keluarganya. Peranan
seorang ibu tentu tidak hanya sebatas mengandung, melahirkan, dan memenuhi
kebutuhan materi anak akan tetapi yang tak kalah penting adalah menjamin
pertumbuhan anak agar tumbuh menjadi anak yang sehat. Hal yang harus
diperhatikan seorang ibu sebagai komdan gizi bagi keluarga nya yaitu:
Ø Belajar dan mengupdate informasi dan pengetahuan tentang bagaimana
memberikan asupan gizi yang cukup, sehat dan mampu menuhi kebutuhan gizi anak
dan keluarga.baik pengetahuan tentang kandungan suatu makan yang diberikan
maupun pengelolaan makanan yang baik dan benar.
Ø Memperhatikan kesedian pangan dan asupan gizi dari makanan yang
disajikan tiap harinya dan selalu mengevaluasi keadaan tumbuh kembang anak.
4.
Impelmentasi
intervensi gizi spesifik dan sensitive:
a.
intervensi
gizi Spesifik intervensi Gizi Spesifik
melalui upaya-upaya dalam menanggulangi gangguan secara langsung , kegiaatan
intervensi gizi spesifik menyasar pada kelompok 1000 HPK, berikut dipaparkan
penagulangan stunting dari segi gizi spesifik oleh germas :
1.
intervensi
dengan sasaran ibu hamil:
Ø Memberikan makanan tambahan pada ibu
hamil, untuk mengatasi kekurangan energi dan protein kronis.
Ø Mengatasi kekurangan zat besi dan asam
folat dengan mengkonsumsi tablet TT
Ø Mengatasi kekuranagan iodium
Ø Menagulangi kecacingan pada ibu hamil
Ø Melindungi ibu hamil dari malaria
2.
Intervensi
dengan sasaran ibu menyusui dan anak usia 0-6 bulan :
Ø Mendorong inisiasi menyusu
dini(pemberian ASI jolong/colostrum)
Ø Mendorong pemeberian ASI ekslusif
Ø Mendorong ibu mencuci tangan dengan bener
3.
Intervensi
dengan sasaran ibu menyusui dan anak usia 7-32 bulan:
Ø Mendorong pemeberian ASI hingga usia 23
bulan didampingi oleh pemberian MPASI
Ø Menyediakan obat cacing
Ø Menyediakan siplemtasi zink
Ø Melakuan fortifikasi zat besi kedalam
makanan
Ø Memberikan perlindungan terhadap malaria
Ø Memberikan imunisasi lengkap
Ø Melakukan pencegahan dan pengobatan
terhadap diare.
b. intervensi
gizi sensitive
intervensi Gizi Sensitive melalui upaya tidak langsung
seperti penyediaan air bersih dan penanggulangan kemiskinan, berikut
upaya-upaya yang dilakukan dalam Germas oleh Kemenkes terkait intervensi gizi
sensitive:
Ø Menyediakan
dan memastikan akses air bersih
Ø Menyediakan
dan memastikan akses sanitasi
Ø Melakukan
fortifikasi bahan pangan
Ø Menyediakan
askes kepada layanan kesehatan dan
kelaurga berencana (KB)
Ø Menyediakan
jaminan kesehatan nasional (JKN)
Ø Menyediakn
jaminan persaliann universal (Jampersal)
Ø Memberikan
pendidikan pengasuhan kepada orang tua
Ø Memberikan
pendidikan anak usia dini universal.
Ø Memberikan
edukasi kesehatan seksual dan reproduksi serta gizi remaja.
Ø menyediakan
bantuan dan jaminan sosial bagi keluarga miskin
Ø meningkatkan
ketahnan pangan dan gizi